Selasa, 21 Juni 2016

PSIKOTERAPI PENDEKATAN HUMANISTIK

                                                                                  PSIKOTERAPI
                                                                     PENDEKATAN HUMANISTIK
                                                                           Dosen :  Puti Anggraini


                                                           
                                                     


                                                                NAMA    : SASTIA JULIANA

                                                                NPM       : 18513293

                                                                Kelas       : 3PA06



                                                                            PTA 2016/2017
                                                                    Universitas Gunadarma




                                                                                  BAB I
                                                                         PENDAHULUAN

a.    Latar Belakang

       Psikologi telah lama di dominasi oleh pendekatan empiris terhadap studi tentang tingkah laku individu.Banyak ahli psikologi Amerika yang menunjukkan kepercayaan pada definisi-definisi operasional dan hipotesis-hipotesis yang bisa diuji serta memandang usaha memperoleh data empiris sebagai satu-satunya pendekatan yang sahih guna memperoleh informasi tentang tingkah laku manusia. Pendekatan eksistensial humanistik, di lain pihak, menekankan renungan-renungan filosofis tentang apa artinya menjadi manusia yang utuh.

      Tujuan dasar banyak pendekatan psikoterapi adalah membantu individu agar mampu bertindak, menerima kebebasan dan tanggung jawab untuk tindakan-tindakannya.Terapi humanistik eksistensial berpijak pada premis bawah manusia tidak bisa melarikan diri dari kebebasan dan bahwa kebebasan dan tanggung jawab itu saling berkaitan.Dalam penerapan-penerapan terapeutiknya pendekatan eksistensial humanistik memusatkan paerhatian pada asumsi-asumsi filosofis yang malandasi terapi.Pendekatan eksistensial humanistik menyajikan suatu landasan filosofis bagi orang-orang dalam hubungan dengan sesamanya yang menjadi ciri khas, kebutuhan yang unik dan menjadi tujuan konselingnya, dan yang melalui implikasi-implikasi bagi usaha membantu individu dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan dasar yang menyangkut keberadaan manusia.


b.    Rumusan Masalah

1.    Apa pengertian dari teori pendekatan humanistik?

2.    Siapa tokoh-tokoh dalam pendekatan humanistik?

3.    Apa saja prosedur dan teknik terapi dalam humanistik?

4.    Bagaimana kasus pada pendekatan humanistik?

5.    Bagaimana analisis kasus pendekatan humanistik?

6.    Apa saja kelebihan  dan kekurangan teori humanistik?


c.    Tujuan

1.    Untuk mengetahui teori pendekatan humanistik

2.    Untuk mengetahuitokoh-tokoh dalam pendekatan humanistik

3.    Untuk mengetahuiprosedur dan teknik terapi dalam humanistik

4.    Untuk mengetahuikasus pada pendekatan humanistik

5.    Untuk mengetahuianalisiskasus pada pendekatan humanistik

6.    Untuk mengetahuikelebihan  dan kekurangan teori humanistik



                                                                                  BAB II
                                                                            PEMBAHASAN


a.    Pengertian Pendekatan Humanistik

      Teori Humanistik merupakan teori yang menitikberatkan pada pentingnya isi proses belajar. Dengan berfokus pada manusianya itu sendiri sebagai pelaku.Manusia yang memiliki kemampuan untuk berfikir secara rasional dan memiliki potensi yang maksimal untuk mengatur kehidupannya.Mereka bertanggung jawab atas kehidupan dan perbuatan mereka.Mereka pun memiliki kebebasan dan kemampuan untuk mengubah perilaku dan sikap mereka.


b.    Tokoh-tokoh dalam Humanistik

      1.    Arthur Combs (1912-1999)

             Bersama dengan Donald Snygg (1904-1967) mereka mencurahkan banyak perhatian pada dunia pendidikan.Meaning (makna atau arti) adalah konsep dasar yang sering digunakan.Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan karena bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan penting mereka harus mempelajarinya. Perilaku buruk itu sebenarnya tak lain hanyalah dati ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya.

      2.    Abraham Maslow

            Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal :

      1)    suatu usaha yang positif untuk berkembang

      2)    kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.

            Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis. Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri (self).

           Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi tujuh hirarki. Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti kebutuhan fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak di atasnya, ialah kebutuhan mendapatkan ras aman dan seterusnya. Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting yang harus diperharikan oleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak. Ia mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar ini mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi.

     3.    Carl Ransom Rogers

            Carl Ransom Rogers (1902-1987) lahir di Oak Park, Illinois pada tanggal 8 Januari 1902 di sebuah keluarga Protestan yang fundamentalis. Kepindahan dari kota ke daerah pertanian diusianya yang ke-12, membuat ia senang akan ilmu pertanian. Ia pun belajar pertanian di Universitas Wisconsin. Setelah lulus pada tahun 1924, ia masuk ke Union Theology Seminary di Big Apple dan selama masa studinya ia juga menjadi seorang pastor di sebuah gereja kecil. Meskipun belajar di seminari, ia malah ikut kuliah di Teacher College yang bertetangga dengan seminarinya. Rogers membedakan dua tipe belajar, yaitu:

     1.    Kognitif (kebermaknaan)

     2.    Experiential ( pengalaman atau signifikansi)


         Teori Humanistik Carl Rogers

             Meskipun teori yang dikemukan Rogers adalah salah satu dari teori holistik, namun keunikan teori adalah sifat humanis yang terkandung didalamnya. Teori humanistik Rogers pun menpunyai berbagai nama antara lain :Teori yang berpusat pada pribadi (person centered), non-directive, klien (client-centered), teori yang berpusat pada murid (student-centered), teori yang berpusat pada kelompok (group centered), dan person to person). Namun istilah person centered yang sering digunakan untuk teori Rogers.

      c.    Prosedur dan Teknik terapi

      1.    Kesadaran Diri

             Menurut May (1953) manusia adalah makhluk yang bisa menyadari dan oleh karenanya, bertanggung jawab atas keberadaannya. Kesadaran diri itu membedakan manusia dari makhluk-makhluk lain. Manusia bisa tampil di luar diri dan berefleksi atas keberadaannya. Pada hakikatnya, semakin tinggi kesadaran diri seseorang, maka ia akan semakin hidup sebagai pribadi atau sebagaimana yang dinyatakan oleh Kierkegaard, “ Semakin tinggi kesadaran, maka semakin utuh diri seseorang”.

      2.    Kebebasan dan Tanggung Jawab

             Manusia adalah makhluk yang menentukan diri, dalam arti bahwa dia memiliki kebebasan untuk        memilih di antara alternative-alternatif.Karena manusia pada dasarnya bebas, maka dia harus bertanggung jawab atas pengarahan hidup dan penentuan nasibnya sendiri.

            Kebebasan adalah kesanggupan untuk meletakkan perkembangan di tangan sendiri dan untuk memilih di antara alternatife-alternatif.Tentu saja kebebasan memiliki batas-batas, dan pilihan-pilihan dibatasi oleh faktor-faktor luar.Akan tetapi kita memang memiliki unsur memilih.Kita
            May (1961) menyatakan “ Betapa pun besarnya kekuatan-kekuatan yang menjadikan manusia sebagai korban, manusia memiliki kesanggupan untuk mengetahui bahwa dirinya menjadi korban dan dari situ dia bisa mempengaruhi dengan cara tertentu, bagaimana dia dapat memperlakukan nasibnya sendiri”.
            Sedangkan Frankl (1959) menyatakan “ Hidup terutama berarti memikul tanggung jawab untuk menemukan jawaban yang tepat bagi masalah-masalahnya dan untuk menunaikan tugas-tugas yang terus menerus diberikannya kepada masing-masing individu.

     3.    Keterpusatan dan Kebutuhan akan Orang Lain

           Setiap individu memiliki kebutuhan untuk memelihara keunikan danketerpusatannya, tetapi pada saat yang sama ia memiliki kebutuhan untuk keluar dari dirinya sendiri dan untuk berhubungan dengan orang lain serta dengan alam. Kegagalan dalam berhubungan dengan orang lain dan dengan alam menyebabkan ia kesepian, mengalami alienasi, keterasingan dan depersonalisasi.

     4.    Pencarian Makna

     a.    Masalah penyisihan nilai-nilai lama

     b.    Belajar untuk menemukan makna dalam hidup

            Logoterapi yang di kembangkan oleh Viktor Frankl, dirancang untuk membantu individu dalam menemukan makna dalam hidupnya.Pencarian makna dalam hidup adalah salah satu ciri manusia.“ Keinginan kepada makna” adalah perjuangan utama manusia.
           Frank (1959), menyatakan bahwa fungsi terapis bukanlah menyampaikan pada klien apa makna hidup yang harus di ciptakannya, melainkan mengungkapkan bahwa klien bisa menemukan makna, bahkan juga dari penderitaan.

     c.    Pandangan eksistensial tentang psiokologi

            Para terapis eksistensial memandang neurosis sebagai kehilangan rasa ada, yang membawa serta pembatasan kesadaran dan penutupan kemungkinan yang merupakan manifestasi-manifestasi dari ada. Mereka menyebut “frustasi eksistensial” atau “kehampaan eksistensial”: sebagai akibat kegagalan ketika mencari makna dalam hidup.

     5.    Kecemasan sebagai syarat hidup

            Kecemasan adalah suatu karakteristik dasar manusia. Kecemasan tidak perlu merupakan sesuatu yang patologis, sebab ia bisa menjadi suatu tenaga motivasional yang kuat untuk pertumbuhan. Kecemasan adalah akibat dari kesadaran atas tanggung jawab untuk memilih.

     6.    Kesadaran atas kematian dan non-ada

            Kesadaran atas kematian adalah kondisi manusia yang mendasar yang memberikan makna kepada hidup. Frank (1965) dengan May menyebutkan bahwa kematian memberikan makna kepada keberadaan manusia. Jika kita tidak pernah mati, maka kita bisa menunda tindakan untuk selamanya.

     7.    Perjuangan untuk aktualisasi diri

            Manusia berjuang untuk aktualisasi diri, yaitu kecenderungan untuk menjadi apa saja yang mereka mampu. Apa saja ciri-ciri yang mengaktualkan diri? Beberapa ciri yang ditemukan oleh Maslow (1968, 1970) pada orang-orang yang mengaktualkan diri adalah:
a.    Kesanggupan menoleransi dan bahkan menyambut ketidaktentuan dalam hidup mereka.

b.    Penerimaan terhadap diri sendiri dan orang lain

c.    Kespontanan dan kreativitas

d.    Kebutuhan akan privacy dan kesendirian, otonomikesanggupan menjalin hubungan interpersonal yang    mendalam dan intens

e.    Perhatian yang tulus terhadap orang lain

f.    Rasa humor

g.    Keterarahan kepada diri sendiri (kebalikan dari kecenderungan untuk hidup berdasarkan penghargaan orang lain)

h.    Tidak adanya dikotonomi-dikotonomi yang arttifisial seperti kerja, bermain, cinta benci dan lemah kuat. 

 

      d.    Contoh Kasus
          
             Kesulitan Penyesuaian Diri Mahasiswi “S” dalam kehidupan kampus

             “S”, berusia 22 tahun, mahasiswi tingkat 1, mengalami ancaman DO. Dari hasil evaluasi 7 minggu pertama `ternyata nilai dari semua mata kuliah yang di ambilnya tidak memenuhi persyaratan lulus ke tingkat 2. PA memberitahu hal ini dengan tujuan dia bias mengejar nilainya, dengan belajar yang lebih alkif agar tidak terancam DO.
             Dari hasil evaluasi 4 mata kuliahnya,  “S” memperoleh 2 nilai C dan 2 nilai D. Dia sangat menyadari bahwa dia akan sulit untuk mendapat nilai yang baik untuk ke dua mata kuliahnya tersebut. Kenyataannya ini membuat “S” merasa sangat stress, hingga kadang dia merasa ingin bunuh diri, karena merasa takut gagal.Dalam pergaulan dengan teman-temannya S selalu merasa minder.Ketika kuliah di kelas besar, dia selalu memilih duduk di barisan yang paling belakang dan dia jarang bergaul dengan teman-teman seangkatannya. Dia selalu merasa dirinya kuno, karena menurutnya “S” selalu berpakaian yang tidak fashionable .Akibatnya S selalu menyendiri dan lebih senang berada di perpustakaan dari pada bergaul dengan teman-temanya.
             “S” lebih nyaman ketika masih duduk di bangku SMA, dimana kelasnya lebih kecil dan hubungan di antara siswa di rasakannya lebih akrab.”S” merupakan anak ke dua dari dua bersaudara (keduanya wanita). Kakaknya berusia dua tahun lebih tua darinya, dan mempunyai prestasi akademis yang cukup “cemerlang” di fakultas yang sama. Walaupun orang tua tidak pernah membandingkan kemampuan ke dua anaknya, tetapi S merasa bahwa kakaknya mempunyai kelebihan di segala bidang, di bandingkan dengan dirinya.

      e.    Analisis Kasus

              Menurut aliran humanistik-eksistensial kasus “S” bukan hanya sekedar masalah yang bersifat individual, tetapi juga merupakan hasil konflik antara individu dengan masyarakat atau lingkungan sosialnya. Jika “S” melihat perbedaan yang sangat luas antara pandangannya tentang dirinya sendiri dengan yang diinginkannya maka akan muncul perasaan inadekuat dalam menghadapi tantangan di kehidupanini, dan hal ini menghasilkan kecemasan atau anxiety.
             Jadi, menurut pandangan humanist-eksistensialis kasus “S” terletak pada konsep diri; yang terjadi sehubungan dengan adanya gangguan antara konsep diri yang sesungguhnya (real self) dengan diri yang diinginkan (ideal self).Hal ini muncul sehubungan dengan tidak adanya kesempatan bagi individu untuk mengaktualisasikan dirinya sehingga perkembangannya menjadi terhalang. Akibatnya, dalam menghadapi tantangan atau kendala dalam menjalani hari-hari dikehidupan selanjutnya, ia akan mengalami kesulitan untuk membentuk konsep diri yang positif.
             Menurut teori humanistik-eksistensial yang melihat kasus “S” sebagai hasil konflik diri yang terkait dengan keadaan sosial dimana pengembangan diri menjadi terhambat, maka teori ini lebih menyarankan untuk membangun kembali diri yang rusak (damaged self). Tekniknya sering disebut sebagai client centered therapy yang berpendapat bahwa setiap individu memiliki kemampuan yang positif yang dapat dikembangkan sehingga ia membutuhkan situasi yang kondusif untuk mengeksplorasi dirinya semaksimal mungkin. Setiap permasalahan yang dialami oleh setiap individu sebenarnya hanya dirinyalah yang paling mengerti tentang apa yang sedang dihadapinya. Oleh karena itu, “S” sendirilah yang paling berperan dalam menyelesaikan permasalahan yang mengganggu dirinya.Karena menurut pandangan teori ini sebagai hasil dari belajar (belajar menjadi cemas) maka untuk menanganinya perlu ditakukan pembelajaran ulang agar terbentuk pola perilaku baru.Teknik yang digunakan adalah systematic desentisitization, yaitu mengurangi
             kecemasan dengan menggunakan konsep hirarkhi ketakutan, menghilangkan ketakutan secara perlahan-lahan mulai dari ketakutan yang sederhana sampai ke hal yang lebih kompleks. Pemberian reinforcement (penguat) juga dapat digunakan dengan secara tepat memberikan variasi yang tepat antara pemberian reward jika ia memperlihatkan perilaku yang mengarah keperubahan ataupun punishment jika tidak ada perubahan perilaku atau justru menampilkan perilaku yang bertolak belakang dengan rencana perubahan perilaku.

      f.   Kelebihan dan kekurangan teori humanistik
        Kelebihan:

             1.    Selalu mengedepankan akan hal-hal yang bernuansa demokratis partisipatis, dialogis dan humanis.
               2.    Suasana pembelajaran yang paling menghargai adanya kebebasan berpendapat, kebebasan mengungkapkan gagasan.

           3.    Keterlibatan peserta didik dalam berbagai aktifitas di sekolah, dan lebih-lebih adalah kemampuan hidup bersama (komunal bermasyarakat) di antara peserta didik yang

                   tentunya mempunyai pandangan yang berbeda-beda.

          Kekurangan:

             1.    Teori humanistik tidak dapat di uji dengan mudah

         2.    Banyak konsep dalam psikologi humanistik, seperti misalnya orang yang sudah berhasil mengaktualisasikan dirinya, ini masih buram dan subjektif.

             3.    Psikologi humanistic mengalami pembiasan terhadap nilai individualistis


                                                                                 BAB III
                                                                                PENUTUP

             Pendekatan eksistensial humanistik, di lain pihak, menekankan renungan-renungan filosofis tentang apa artinya menjadi manusia yang utuh.Tujuan dasar banyak pendekatan psikoterapi adalah membantu individu agar mampu bertindak, menerima kebebasan dan tanggung jawab untuk tindakan-tindakannya.Terapi humanistik eksistensial berpijak pada premis bawah manusia tidak bisa melarikan diri dari kebebasan dan bahwa kebebasan dan tanggung jawab itu saling berkaitan.Dalam penerapan-penerapan terapeutiknya pendekatan eksistensial humanistik memusatkan paerhatian pada asumsi-asumsi filosofis yang malandasi terapi.
             Teori Humanistik merupakan teori yang menitikberatkan pada pentingnya isi proses belajar. Dengan berfokus pada manusianya itu sendiri sebagai pelaku. Adapun kelebihan dan kekurangannya adalah sebagai berikut: selalu mengedepankan akan hal-hal yang bernuansa demokratis partisipatis, dialogis dan humanis, suasana pembelajaran yang paling menghargai adanya kebebasan berpendapat, kebebasan mengungkapkan gagasan, keterlibatan peserta didik dalam berbagai aktifitas di sekolah, dan lebih-lebih adalah kemampuan hidup bersama (komunal bermasyarakat) di antara peserta didik yang tentunya mempunyai pandangan yang berbeda-beda, teori humanistik tidak dapat di uji dengan mudah, banyak konsep dalam psikologi humanistik, seperti misalnya orang yang sudah berhasil mengaktualisasikan dirinya, ini masih buram dan subjektif, psikologi humanistic mengalami pembiasan terhadap nilai individualistis.



                                                                         DAFTAR PUSTAKA

C. Asri Budiningsih. (2005). Belajar dan Pembelajaran, Yogyakarta: Rineka Cinta.


Corel Gerald. (2007). Teori Dan Praktek Konseling dan Psikoterapi,Bandung:RefikaAditama


http://idarianawaty.blogspot.co.id/2011/02/teori-humanistik.html


https://docs.google.com/document/d/17I4pWiF7yAQu_sdQ9dK66cH61xQTu_k9yxAfFJwr-Fg/edit?pref=2&pli=1






0 komentar:

Posting Komentar