Kamis, 15 Desember 2016

ELEMEN SISTEM TES KEPRIBADIAN

Nama Anggota Kelompok :
  1. Annisa Yuliandiani
  2. Ayu Rosita
  3. Citra Anggraeni A
  4. Izky Arsylla
  5. Leonie Damayanti
  6. Meylita Putri A
  7. Sastia juliana
Kelas   : 4PA06

Tes kepribadian adalah seperangkat alat tes yang disusun untuk mendeskripsikan bagaimana kecenderungan seseorang bertingkah laku. Tes kepribadian sebenarnya adalah deskripsi kualitatif dari kepribadian, bukannya deskripsi kuantitatif (angka-angka), karena sebenarnya kepribadian tidak dapat diukur, tetapi hanya dapat dideskripsikan. Untuk membantu menjelaskan kepribadian, alat tes kepribadian menggunakan bantuan angka-angka dan kemudian hasilnya dintrepretasikan/dideskripsikan kedalam kualitatif.

Saat ini ada banyak cara untuk mengikuti tes kepribadian salah satunya tes kepribadian memalui online, ada banyak tes kepribadian yang disedikan online salah satunya adalah tes kepribadian MBTI. MBTI adalah sebuah singkatan dari Myers-Birggs Type Indicator, yang merupakan sebuah psikotes yang dirancang untuk mengukur preferensi psikologis dalam melihat dunia dan mengambil keputusan. Psikotes ini dirancang untuk mengukur kecerdasan individu, bakat, dan juga tipe kepribadian. MBTI ini dikembangkan oleh Isabel Briggs Myers sejak tahun 1940 sejak saat itu sudah diperbaharui, dan divalidasi secara ketat selama lebih dari 70 tahun. Sebenarnya MBTI didasari pada jenis dan preferensi kepribadian dari Carl Gustav Jung, yang menulisPsychological Types pada tahun 1921. 

Kemudian pada jaman sekarang dengan teknologi yang serba canggih, tes tersebut dapat dikombinasikan dengan teknologi sistem. Tes MBTI dapat dilakukan secara online serta cara penggunaannya yang mudah dipahami oleh semua kalangan usia, dengan cara menjawab beberapa pertanyaan yang disajikan pengguna dapat mengetahui mengenai kepribadiannya.
Berikut ini adalah singkatan yang digunakan untuk 16 jenis kepribadian yang dikategorikan dalam instrument tes kepribadian MBTI (Myers Birggs Type Indicator). Dalam Keirsey Temperament Sorter yang dikembangkan David Keirsey.
Dimensi Kepribadian MBTI: 
  • E – Extraversion: Mereka bBiasanya merasa termotivasi melalui interaksi dengan orang lain. Mereka cenderung untuk menikmati jaringan perkenalan yang luas, dan mereka mendapatkan energi dalam situasi sosial.
  • N – Intuition: cenderung lebih abstrak. Mereka fokus pada gambaran besar daripada detail, dan kemungkinan masa depan daripada realitas yang ada.
  • T – Thinking: cenderung lebih menilai berdasarkan kriteria obyektif daripada kriteria pribadi. Ketika membuat keputusan, mereka umumnya memberikan bobot yang lebih pada logika daripada pertimbangan sosial.
  • J – Judgment: cenderung untuk merencanakan kegiatan mereka dan membuat keputusan di awal. Mereka mengontrol melalui prediktabilitas.
  • I – Introversion: cenderung tenang dan pendiam. Mereka umumnya lebih suka berinteraksi intensif hanya dengan beberapa teman dekat daripada dengan memilih dengan banyak orang, dan mereka mengeluarkan energi dalam situasi sosial, dan memperoleh energi saat menyendiri.
  • N – Intuition: cenderung lebih abstrak. Mereka fokus pada gambaran besar daripada detail, dan kemungkinan masa depan daripada realitas yang ada.
  • F – Feeling: cenderung menghargai pertimbangan pribadi dalam mengambil keputusan. Umumnya mereka sering lebih mengutamakan implikasi sosial daripada logika.
  • P – Perception: Cenderung menahan pendapat dan menunda keputusan, lebih memilih untuk “menjaga pilihan mereka tetap terbuka” sehingga dapat berubah sesuai kondisi.
Langkah-langkah Pengerjaan Tes Mbti Online :
  • Pertama masuk ke website http://www.si-pedia.com/2014/03/tes-kepribadian-mbti-online-gratis-bahasa-indonesia.html
  • Kemudian klik mulai tes pada table yang berwarna hijau.




  • Kemudian akan muncul beberapa pernyataan, anda diminta memilih jawaban yang sesuai dengan dirinya. Pernyataan tersebut terdiri dari 60 pernyataan.
  • Setelah selesai menjawab 60 pernyataan tersebut, klik tampilkan hasil.

  • Maka akan muncul tampilan hasil tes kepribadian MBTI (Myers Birggs Type Indicator). subejk mendapatkan hasil tes kepribadian ESTP (Extraversion, Sensing, Thinking, Perceiving).


DAFTAR PUSTAKA

http://www.si-pedia.com/2013/12/tipe-kepribadian-infp.html
http://www.si-pedia.com/2013/12/tipe-kepribadian-entj.html
http://www.si-pedia.com/2014/03/tes-kepribadian-mbti-online-gratis-bahasa-indonesia.html
Feist, J., Feist, G. J. (2010). Teori Kepribadian Edisi 7 Buku 2. Jakarta: Salemba

Selasa, 01 November 2016

TUGAS II SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI

Pengertian Sistem Informasi
    Menurut Komaruddin, Sistem Informasi adalah seperangkat prosedur yang terorganisasi dengan sistematik yang jika di laksanakan akan menyediakan informasi yang dapat di manfaatkan dalam proses pembuatan keputusan.

Pengertian Elemen Sistem
    Menurut Tagor M. Simatupang, Elemen Sistem merupakan bagian terkecil dari sistem yang dapat diidentifikasi yang terdiri dari subsistem-subsistem.
    Untuk membangun sistem informasi psikologi, kita perlu menyiapkan kebutuhan untuk elemen sistem dan karakter sistem yang akan di bangun antara lain :
a.    Tujuan
Digunakan oleh mekanisme pengendali untuk membandingkan sinyal umpan balik, dan mengarahkan sinyal pada elemen input bilsa sistem operasi perli dirubah
b.    Mekanisme Kontrol
Memantau transformasi, meyakinkan sistem bahwa tujuan tercapai. Dihubungkan pada arus sumberdaya dengan memakai suatu  feedback loop (lingkaran umpan balik)
c.    Input
Mengalir melalui elemen transformasi, diubah menjadi sumberdaya output
d.    Proses
Mentransformasikan inpput  menjadi output
e.    Output
pertimbangan utama dalam elemen sistem dan hasil perubahan input melalui elemen transformasi.

 Pengertian Karakter Sistem

     Karakter Sistem merupakan sistem yang mempunyai komponen-komponen, batas sistem, lingkungan sistem, penghubung, masukan, keluaran, pengolah dan sasaran.
Sistem mempunyai beberapa karakteristik atau sifat tertentu, antara lain :
A.    Komponen sistem (Component) : Suatu sistem terdiri dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi, yang saling bekerja sama membentuk suatu komponen sistem.
B.    Batasan sistem (Boundary) : Merupakan daerah yang membatasi suatu sistem dengan sistem yang lain atau dengan lingkungan kerjanya.
C.    Sub sistem (Sub system) : Bagian-bagian dari sistem yang beraktivitas dan berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan dengan sasarannya masing-masing.
D.    Lingkungan luar sistem (Environment) : Suatu sistem yang ada di luar dari batas sistem yang dipengaruhi oleh operasi sistem.
E.    Penghubung sistem (Interface) : Media penghubung antara suatu sub sistem dengan sub sistem lain. Adanya penghubung ini memungkinkan berbagai sumber daya menglir dari suatu sub sistem ke subsistem lainnya.
F.    Masukan sistem (Input) : Energi yang masuk ke dalam sistem, berupa perawatan dan sinyal. Masukan perawatan adalah energi yang di masukkan supaya sistem tersebut dapat berinteraksi.
G.    Keluaran sistem (Output) : Hasil energi yang di olah dan di klasifikasi menjadi keluaran yang berguna dan sisa pembuangan.
H.    Pengolahan sistem (Process) : Suatu sistem dapat mempunyai suatu bagian pengolahan yang akan mengubah masukan menjadi keluaran.
I.    Sasaran sistem (Object) : Tujuan yang ingin dicapai oleh sistem, akan dikatakan berhasil apabila mengenai sasaran atau tujuan.

Model sistem informasi psikologi

Sistem informasi psikologi sendiri adalah suatu sistem yang terdiri kombinasi dari manusia, fasilitas atau alat teknologi, media, prosedur, dan pengendalian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan, mengolah, dan menyimpan data mengenai perilaku terlihat maupun tidak terlihat secara langsung serta proses mental yang terjadi pada manusia sehingga data tersebut dapat diolah menjadi informasi yang dapat digunakan untuk tujuan tertentu.
 E-Counseling merupakan salah satu bentuk nyata aplikasi teknologi informasi dalam bidang Psikologi. Internet menawarkan suatu proses psikoterapis yang menggunakan suatu media komunikasi yang baru, diamana melalui media tersebut mereka dapat memberikan intervensi psikoterapi, itulah ang disebut dengan E-Counseling atau E-mail counseling. Melalui internet, proses terapi dilakukan kemudian menyusun rencana dalam  melakukan intervensi psikologi secara face toface. Fungsi e-counseling yakni memudahkan dan membantu terapis untuk mengumpulkan data terkait dengan klien sebelum akhirnya klien sepakat untuk bertemu secara langsung untuk melakukan proses terapis selanjutnya.

Daftar Pustaka
dir.unikom.ac.id/laporan-kerja-praktek/fakultas-teknik.pdf (diakses 29 oktober 2016, pukul 19.00 WIB)

Jogiyanto. 2005. Analisis & Desain Sistem Informasi: Pendekatan Terstruktur Teori dan Praktek Aplikasi Bisnis. Yogyakarta: Andi






Selasa, 04 Oktober 2016

SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI



1.      Pengertian Sistem
Definisi sistem menurut beberapa tokoh :
·        Menurut Murdick, R.G, sistem adalah seperangkat elemen yang membentuk kumpulan atau procedure-procedure atau bagan-bagan pengolahan yang mencari suatu tujuan tertentu.
·         Sedangkan menurut Jerry FutzGerald, sistem merupakan suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran yang tertentu.
·     Selanjutnya pengertian sistem menurut Dr. Ir. Harijono Djojodihardjo adalah sekumpulan objek yang mencakup hubungan fungsional antara tiap-tiap objek dan hubungan antara cirri tiap objek dan yang secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan secara fungsional.
·   Lani Sidharta mendefinisikan sistem adalah himpunan dari bagian-bagian yang saling berhubungan yang secara bersama mencapai tujuan-tujuan yang sama.
Berdasarkan pengertian sistem menurut para tokoh di atas dapat di simpulkan bahwa sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan kegiatan atau untuk melakukan sasaran yang tertentu.

2.      Pengertian Informasi
Definisi informasi menurut para tokoh :
·       Menurut Kenneth C. Laudon, Information is data that have been shaped into a from that is meaningful and useful to human being.
“ Informasi adalah data yang sudah di bentuk ke dalam sebuah formulir bentuk yang bermanfaat dan dapat di gunakan untuk manusia.”
·     Menurut Anton M. Moeliono, Informasi adalah penerangan, keterangan, pemberitahuan, kabar atau berita. Selnjutnya Anton M. Moeliono mengatakan bahwa informasi adalah keterangan atau bahan nyata yang dapat di jadikan dasar kajian analisis atau kesimpulan.
·       Menurut Gordon B. Davis, Information is data that has been processed into a from that is meaningful to the recipient and is of real or perceived value in current or prospective action or decisions.
“ Informasi adalah data yang telah diproses atau di olah ke dalam bentuk yang sangat berarti untuk penerimanya dan merupakan nilai yang sesungguhnya atau di pahami dalam tindakan atau keputusan yang sekarang atau nantinya.
·         Sedangkan Menurut Fatta, Informasi adalah data yang sudah di olah menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi pengguna yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan saat ini atau mendukung sumber informasi.
Berdasarkan pengertian informasi menurut para tokoh di atas dapat di simpulkan bahwa informasi adalah data yang sudah di olah atau di proses untuk di jadikan pengambilan keputusan bersama.

3.      Pengertian Psikologi
Definisi psikologi menurut beberapa tokoh :
·     Menurut Wundt (dalam Devidoff, 1981), psikologi merupakan ilmu tentang kesadaran manusia (the science of human consciousness). Dari batasan ini dapat di kemukakan bahwa dalam psikologi, keadaan jiwa di refleksikan dalam kesadaran manusia. Unsur kesadaran merupakan hal yang di pelajari dalam psikologi.
·         Sedangkan Morgan (1984) berpendapat bahwa psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia dan binatang.
·      Kemudian Plotnik (2005) mendefinisikan, Psikologi merupakan studi yang sistematik dan ilmiah tentang perilaku dan proses mental.
·       Lalu menurut Woodworth dan Marquis menyatakan bahwa psikologi mempelajari aktivitas baik motorik, kognitif maupun emosional.
Berdasarka pengertian psikologi menurut para ahli di atas dapat di simpulkan bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan tentang jiwa dengan pendekatan ilmiah di pelajari melalui penelitian-penelitian ilmiah.

4.      Pengertian Sistem Informasi Psikologi
Berdasarkan pengertian istilah-istilah di atas, maka dapat di simpulkan bahwa sistem informasi psikologi adalah suatu sistem yang di dalamnya terdapat kombinasi dari manusia dan teknologi yang di maksudkan mengolah data mengenai perilaku manusia sehingga menghasilkan informasi yang dapat di gunakan untuk tujuan tertentu.

Daftar Pustaka
Basuki, A. M. H (2008). Psikologi Umum. Jakarta : Universitas Gunadarma.
Gaol, C. J. L (2008). Sistem Informasi Manajemen Pemahaman dan Aplikasi. Jakarta: Grasindo.
Hutahean, J. (2014). Konsep Sistem Informasi. Yogyakarta: Penerbit Deepublish.
Koniyo, A. & kusrini (2007). Tujuan Praktis Membangun Sistem Informasi Akuntansi dengan Visual Basic dan Microsoft SQL Server. Yogyakarta : Penerbit C.V OFFSET.





Selasa, 21 Juni 2016

PSIKOTERAPI PENDEKATAN HUMANISTIK

                                                                                  PSIKOTERAPI
                                                                     PENDEKATAN HUMANISTIK
                                                                           Dosen :  Puti Anggraini


                                                           
                                                     


                                                                NAMA    : SASTIA JULIANA

                                                                NPM       : 18513293

                                                                Kelas       : 3PA06



                                                                            PTA 2016/2017
                                                                    Universitas Gunadarma




                                                                                  BAB I
                                                                         PENDAHULUAN

a.    Latar Belakang

       Psikologi telah lama di dominasi oleh pendekatan empiris terhadap studi tentang tingkah laku individu.Banyak ahli psikologi Amerika yang menunjukkan kepercayaan pada definisi-definisi operasional dan hipotesis-hipotesis yang bisa diuji serta memandang usaha memperoleh data empiris sebagai satu-satunya pendekatan yang sahih guna memperoleh informasi tentang tingkah laku manusia. Pendekatan eksistensial humanistik, di lain pihak, menekankan renungan-renungan filosofis tentang apa artinya menjadi manusia yang utuh.

      Tujuan dasar banyak pendekatan psikoterapi adalah membantu individu agar mampu bertindak, menerima kebebasan dan tanggung jawab untuk tindakan-tindakannya.Terapi humanistik eksistensial berpijak pada premis bawah manusia tidak bisa melarikan diri dari kebebasan dan bahwa kebebasan dan tanggung jawab itu saling berkaitan.Dalam penerapan-penerapan terapeutiknya pendekatan eksistensial humanistik memusatkan paerhatian pada asumsi-asumsi filosofis yang malandasi terapi.Pendekatan eksistensial humanistik menyajikan suatu landasan filosofis bagi orang-orang dalam hubungan dengan sesamanya yang menjadi ciri khas, kebutuhan yang unik dan menjadi tujuan konselingnya, dan yang melalui implikasi-implikasi bagi usaha membantu individu dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan dasar yang menyangkut keberadaan manusia.


b.    Rumusan Masalah

1.    Apa pengertian dari teori pendekatan humanistik?

2.    Siapa tokoh-tokoh dalam pendekatan humanistik?

3.    Apa saja prosedur dan teknik terapi dalam humanistik?

4.    Bagaimana kasus pada pendekatan humanistik?

5.    Bagaimana analisis kasus pendekatan humanistik?

6.    Apa saja kelebihan  dan kekurangan teori humanistik?


c.    Tujuan

1.    Untuk mengetahui teori pendekatan humanistik

2.    Untuk mengetahuitokoh-tokoh dalam pendekatan humanistik

3.    Untuk mengetahuiprosedur dan teknik terapi dalam humanistik

4.    Untuk mengetahuikasus pada pendekatan humanistik

5.    Untuk mengetahuianalisiskasus pada pendekatan humanistik

6.    Untuk mengetahuikelebihan  dan kekurangan teori humanistik



                                                                                  BAB II
                                                                            PEMBAHASAN


a.    Pengertian Pendekatan Humanistik

      Teori Humanistik merupakan teori yang menitikberatkan pada pentingnya isi proses belajar. Dengan berfokus pada manusianya itu sendiri sebagai pelaku.Manusia yang memiliki kemampuan untuk berfikir secara rasional dan memiliki potensi yang maksimal untuk mengatur kehidupannya.Mereka bertanggung jawab atas kehidupan dan perbuatan mereka.Mereka pun memiliki kebebasan dan kemampuan untuk mengubah perilaku dan sikap mereka.


b.    Tokoh-tokoh dalam Humanistik

      1.    Arthur Combs (1912-1999)

             Bersama dengan Donald Snygg (1904-1967) mereka mencurahkan banyak perhatian pada dunia pendidikan.Meaning (makna atau arti) adalah konsep dasar yang sering digunakan.Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan karena bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan penting mereka harus mempelajarinya. Perilaku buruk itu sebenarnya tak lain hanyalah dati ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya.

      2.    Abraham Maslow

            Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal :

      1)    suatu usaha yang positif untuk berkembang

      2)    kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.

            Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis. Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri (self).

           Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi tujuh hirarki. Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti kebutuhan fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak di atasnya, ialah kebutuhan mendapatkan ras aman dan seterusnya. Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting yang harus diperharikan oleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak. Ia mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar ini mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi.

     3.    Carl Ransom Rogers

            Carl Ransom Rogers (1902-1987) lahir di Oak Park, Illinois pada tanggal 8 Januari 1902 di sebuah keluarga Protestan yang fundamentalis. Kepindahan dari kota ke daerah pertanian diusianya yang ke-12, membuat ia senang akan ilmu pertanian. Ia pun belajar pertanian di Universitas Wisconsin. Setelah lulus pada tahun 1924, ia masuk ke Union Theology Seminary di Big Apple dan selama masa studinya ia juga menjadi seorang pastor di sebuah gereja kecil. Meskipun belajar di seminari, ia malah ikut kuliah di Teacher College yang bertetangga dengan seminarinya. Rogers membedakan dua tipe belajar, yaitu:

     1.    Kognitif (kebermaknaan)

     2.    Experiential ( pengalaman atau signifikansi)


         Teori Humanistik Carl Rogers

             Meskipun teori yang dikemukan Rogers adalah salah satu dari teori holistik, namun keunikan teori adalah sifat humanis yang terkandung didalamnya. Teori humanistik Rogers pun menpunyai berbagai nama antara lain :Teori yang berpusat pada pribadi (person centered), non-directive, klien (client-centered), teori yang berpusat pada murid (student-centered), teori yang berpusat pada kelompok (group centered), dan person to person). Namun istilah person centered yang sering digunakan untuk teori Rogers.

      c.    Prosedur dan Teknik terapi

      1.    Kesadaran Diri

             Menurut May (1953) manusia adalah makhluk yang bisa menyadari dan oleh karenanya, bertanggung jawab atas keberadaannya. Kesadaran diri itu membedakan manusia dari makhluk-makhluk lain. Manusia bisa tampil di luar diri dan berefleksi atas keberadaannya. Pada hakikatnya, semakin tinggi kesadaran diri seseorang, maka ia akan semakin hidup sebagai pribadi atau sebagaimana yang dinyatakan oleh Kierkegaard, “ Semakin tinggi kesadaran, maka semakin utuh diri seseorang”.

      2.    Kebebasan dan Tanggung Jawab

             Manusia adalah makhluk yang menentukan diri, dalam arti bahwa dia memiliki kebebasan untuk        memilih di antara alternative-alternatif.Karena manusia pada dasarnya bebas, maka dia harus bertanggung jawab atas pengarahan hidup dan penentuan nasibnya sendiri.

            Kebebasan adalah kesanggupan untuk meletakkan perkembangan di tangan sendiri dan untuk memilih di antara alternatife-alternatif.Tentu saja kebebasan memiliki batas-batas, dan pilihan-pilihan dibatasi oleh faktor-faktor luar.Akan tetapi kita memang memiliki unsur memilih.Kita
            May (1961) menyatakan “ Betapa pun besarnya kekuatan-kekuatan yang menjadikan manusia sebagai korban, manusia memiliki kesanggupan untuk mengetahui bahwa dirinya menjadi korban dan dari situ dia bisa mempengaruhi dengan cara tertentu, bagaimana dia dapat memperlakukan nasibnya sendiri”.
            Sedangkan Frankl (1959) menyatakan “ Hidup terutama berarti memikul tanggung jawab untuk menemukan jawaban yang tepat bagi masalah-masalahnya dan untuk menunaikan tugas-tugas yang terus menerus diberikannya kepada masing-masing individu.

     3.    Keterpusatan dan Kebutuhan akan Orang Lain

           Setiap individu memiliki kebutuhan untuk memelihara keunikan danketerpusatannya, tetapi pada saat yang sama ia memiliki kebutuhan untuk keluar dari dirinya sendiri dan untuk berhubungan dengan orang lain serta dengan alam. Kegagalan dalam berhubungan dengan orang lain dan dengan alam menyebabkan ia kesepian, mengalami alienasi, keterasingan dan depersonalisasi.

     4.    Pencarian Makna

     a.    Masalah penyisihan nilai-nilai lama

     b.    Belajar untuk menemukan makna dalam hidup

            Logoterapi yang di kembangkan oleh Viktor Frankl, dirancang untuk membantu individu dalam menemukan makna dalam hidupnya.Pencarian makna dalam hidup adalah salah satu ciri manusia.“ Keinginan kepada makna” adalah perjuangan utama manusia.
           Frank (1959), menyatakan bahwa fungsi terapis bukanlah menyampaikan pada klien apa makna hidup yang harus di ciptakannya, melainkan mengungkapkan bahwa klien bisa menemukan makna, bahkan juga dari penderitaan.

     c.    Pandangan eksistensial tentang psiokologi

            Para terapis eksistensial memandang neurosis sebagai kehilangan rasa ada, yang membawa serta pembatasan kesadaran dan penutupan kemungkinan yang merupakan manifestasi-manifestasi dari ada. Mereka menyebut “frustasi eksistensial” atau “kehampaan eksistensial”: sebagai akibat kegagalan ketika mencari makna dalam hidup.

     5.    Kecemasan sebagai syarat hidup

            Kecemasan adalah suatu karakteristik dasar manusia. Kecemasan tidak perlu merupakan sesuatu yang patologis, sebab ia bisa menjadi suatu tenaga motivasional yang kuat untuk pertumbuhan. Kecemasan adalah akibat dari kesadaran atas tanggung jawab untuk memilih.

     6.    Kesadaran atas kematian dan non-ada

            Kesadaran atas kematian adalah kondisi manusia yang mendasar yang memberikan makna kepada hidup. Frank (1965) dengan May menyebutkan bahwa kematian memberikan makna kepada keberadaan manusia. Jika kita tidak pernah mati, maka kita bisa menunda tindakan untuk selamanya.

     7.    Perjuangan untuk aktualisasi diri

            Manusia berjuang untuk aktualisasi diri, yaitu kecenderungan untuk menjadi apa saja yang mereka mampu. Apa saja ciri-ciri yang mengaktualkan diri? Beberapa ciri yang ditemukan oleh Maslow (1968, 1970) pada orang-orang yang mengaktualkan diri adalah:
a.    Kesanggupan menoleransi dan bahkan menyambut ketidaktentuan dalam hidup mereka.

b.    Penerimaan terhadap diri sendiri dan orang lain

c.    Kespontanan dan kreativitas

d.    Kebutuhan akan privacy dan kesendirian, otonomikesanggupan menjalin hubungan interpersonal yang    mendalam dan intens

e.    Perhatian yang tulus terhadap orang lain

f.    Rasa humor

g.    Keterarahan kepada diri sendiri (kebalikan dari kecenderungan untuk hidup berdasarkan penghargaan orang lain)

h.    Tidak adanya dikotonomi-dikotonomi yang arttifisial seperti kerja, bermain, cinta benci dan lemah kuat. 

 

      d.    Contoh Kasus
          
             Kesulitan Penyesuaian Diri Mahasiswi “S” dalam kehidupan kampus

             “S”, berusia 22 tahun, mahasiswi tingkat 1, mengalami ancaman DO. Dari hasil evaluasi 7 minggu pertama `ternyata nilai dari semua mata kuliah yang di ambilnya tidak memenuhi persyaratan lulus ke tingkat 2. PA memberitahu hal ini dengan tujuan dia bias mengejar nilainya, dengan belajar yang lebih alkif agar tidak terancam DO.
             Dari hasil evaluasi 4 mata kuliahnya,  “S” memperoleh 2 nilai C dan 2 nilai D. Dia sangat menyadari bahwa dia akan sulit untuk mendapat nilai yang baik untuk ke dua mata kuliahnya tersebut. Kenyataannya ini membuat “S” merasa sangat stress, hingga kadang dia merasa ingin bunuh diri, karena merasa takut gagal.Dalam pergaulan dengan teman-temannya S selalu merasa minder.Ketika kuliah di kelas besar, dia selalu memilih duduk di barisan yang paling belakang dan dia jarang bergaul dengan teman-teman seangkatannya. Dia selalu merasa dirinya kuno, karena menurutnya “S” selalu berpakaian yang tidak fashionable .Akibatnya S selalu menyendiri dan lebih senang berada di perpustakaan dari pada bergaul dengan teman-temanya.
             “S” lebih nyaman ketika masih duduk di bangku SMA, dimana kelasnya lebih kecil dan hubungan di antara siswa di rasakannya lebih akrab.”S” merupakan anak ke dua dari dua bersaudara (keduanya wanita). Kakaknya berusia dua tahun lebih tua darinya, dan mempunyai prestasi akademis yang cukup “cemerlang” di fakultas yang sama. Walaupun orang tua tidak pernah membandingkan kemampuan ke dua anaknya, tetapi S merasa bahwa kakaknya mempunyai kelebihan di segala bidang, di bandingkan dengan dirinya.

      e.    Analisis Kasus

              Menurut aliran humanistik-eksistensial kasus “S” bukan hanya sekedar masalah yang bersifat individual, tetapi juga merupakan hasil konflik antara individu dengan masyarakat atau lingkungan sosialnya. Jika “S” melihat perbedaan yang sangat luas antara pandangannya tentang dirinya sendiri dengan yang diinginkannya maka akan muncul perasaan inadekuat dalam menghadapi tantangan di kehidupanini, dan hal ini menghasilkan kecemasan atau anxiety.
             Jadi, menurut pandangan humanist-eksistensialis kasus “S” terletak pada konsep diri; yang terjadi sehubungan dengan adanya gangguan antara konsep diri yang sesungguhnya (real self) dengan diri yang diinginkan (ideal self).Hal ini muncul sehubungan dengan tidak adanya kesempatan bagi individu untuk mengaktualisasikan dirinya sehingga perkembangannya menjadi terhalang. Akibatnya, dalam menghadapi tantangan atau kendala dalam menjalani hari-hari dikehidupan selanjutnya, ia akan mengalami kesulitan untuk membentuk konsep diri yang positif.
             Menurut teori humanistik-eksistensial yang melihat kasus “S” sebagai hasil konflik diri yang terkait dengan keadaan sosial dimana pengembangan diri menjadi terhambat, maka teori ini lebih menyarankan untuk membangun kembali diri yang rusak (damaged self). Tekniknya sering disebut sebagai client centered therapy yang berpendapat bahwa setiap individu memiliki kemampuan yang positif yang dapat dikembangkan sehingga ia membutuhkan situasi yang kondusif untuk mengeksplorasi dirinya semaksimal mungkin. Setiap permasalahan yang dialami oleh setiap individu sebenarnya hanya dirinyalah yang paling mengerti tentang apa yang sedang dihadapinya. Oleh karena itu, “S” sendirilah yang paling berperan dalam menyelesaikan permasalahan yang mengganggu dirinya.Karena menurut pandangan teori ini sebagai hasil dari belajar (belajar menjadi cemas) maka untuk menanganinya perlu ditakukan pembelajaran ulang agar terbentuk pola perilaku baru.Teknik yang digunakan adalah systematic desentisitization, yaitu mengurangi
             kecemasan dengan menggunakan konsep hirarkhi ketakutan, menghilangkan ketakutan secara perlahan-lahan mulai dari ketakutan yang sederhana sampai ke hal yang lebih kompleks. Pemberian reinforcement (penguat) juga dapat digunakan dengan secara tepat memberikan variasi yang tepat antara pemberian reward jika ia memperlihatkan perilaku yang mengarah keperubahan ataupun punishment jika tidak ada perubahan perilaku atau justru menampilkan perilaku yang bertolak belakang dengan rencana perubahan perilaku.

      f.   Kelebihan dan kekurangan teori humanistik
        Kelebihan:

             1.    Selalu mengedepankan akan hal-hal yang bernuansa demokratis partisipatis, dialogis dan humanis.
               2.    Suasana pembelajaran yang paling menghargai adanya kebebasan berpendapat, kebebasan mengungkapkan gagasan.

           3.    Keterlibatan peserta didik dalam berbagai aktifitas di sekolah, dan lebih-lebih adalah kemampuan hidup bersama (komunal bermasyarakat) di antara peserta didik yang

                   tentunya mempunyai pandangan yang berbeda-beda.

          Kekurangan:

             1.    Teori humanistik tidak dapat di uji dengan mudah

         2.    Banyak konsep dalam psikologi humanistik, seperti misalnya orang yang sudah berhasil mengaktualisasikan dirinya, ini masih buram dan subjektif.

             3.    Psikologi humanistic mengalami pembiasan terhadap nilai individualistis


                                                                                 BAB III
                                                                                PENUTUP

             Pendekatan eksistensial humanistik, di lain pihak, menekankan renungan-renungan filosofis tentang apa artinya menjadi manusia yang utuh.Tujuan dasar banyak pendekatan psikoterapi adalah membantu individu agar mampu bertindak, menerima kebebasan dan tanggung jawab untuk tindakan-tindakannya.Terapi humanistik eksistensial berpijak pada premis bawah manusia tidak bisa melarikan diri dari kebebasan dan bahwa kebebasan dan tanggung jawab itu saling berkaitan.Dalam penerapan-penerapan terapeutiknya pendekatan eksistensial humanistik memusatkan paerhatian pada asumsi-asumsi filosofis yang malandasi terapi.
             Teori Humanistik merupakan teori yang menitikberatkan pada pentingnya isi proses belajar. Dengan berfokus pada manusianya itu sendiri sebagai pelaku. Adapun kelebihan dan kekurangannya adalah sebagai berikut: selalu mengedepankan akan hal-hal yang bernuansa demokratis partisipatis, dialogis dan humanis, suasana pembelajaran yang paling menghargai adanya kebebasan berpendapat, kebebasan mengungkapkan gagasan, keterlibatan peserta didik dalam berbagai aktifitas di sekolah, dan lebih-lebih adalah kemampuan hidup bersama (komunal bermasyarakat) di antara peserta didik yang tentunya mempunyai pandangan yang berbeda-beda, teori humanistik tidak dapat di uji dengan mudah, banyak konsep dalam psikologi humanistik, seperti misalnya orang yang sudah berhasil mengaktualisasikan dirinya, ini masih buram dan subjektif, psikologi humanistic mengalami pembiasan terhadap nilai individualistis.



                                                                         DAFTAR PUSTAKA

C. Asri Budiningsih. (2005). Belajar dan Pembelajaran, Yogyakarta: Rineka Cinta.


Corel Gerald. (2007). Teori Dan Praktek Konseling dan Psikoterapi,Bandung:RefikaAditama


http://idarianawaty.blogspot.co.id/2011/02/teori-humanistik.html


https://docs.google.com/document/d/17I4pWiF7yAQu_sdQ9dK66cH61xQTu_k9yxAfFJwr-Fg/edit?pref=2&pli=1






Senin, 11 Januari 2016

REVIEW JURNAL KEPUASAN KERJA

NAMA KELOMPOK (DURIAN)
1.Ahmad Salman D
2.Ayu Rosita N A
3.Citra Anggraeni A
4.Fani J
5.Sastia Juliana
6.Yenti Astuti

Judul : Pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja individual dengan self esteem dan self efficacy sebagai variabel intervening.
Penulis : Cecilia Engko
Jurnal : Bisnis & Akutansi
Volume :10
No : 1
Bulan : April
Tahun : 2008
Hal : 1-12


LATAR BELAKANG
Banyak penelitian-penelitian akuntansi yang mencoba mencari pemahaman hubungan antara kepuasan kerja dan kinerja individual. Beberapa penelitian menyatakan bahwa ada hubungan positif antara kepuasan kerja dan kinerja individual (Parker dan Kleemeir 1951; Vroom 1960; dan Strauss 1968 dalam Maryani dan Supomo 2001). Penelitian yang menguji hubungan antara kepuasan kerja dan kinerja individual masih tidak jelas. Meta analisis yang dilakukan oleh Iffaldano dan Muchinsky (1986) menemu-kan korelasi yang signifikan antara kedua variabel tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Ostroff (1992) memberikan bukti empiris bahwa kepuasan kerja tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan peningkatan kinerja individual. Ketidakjelasan hubungan antara kepuasan kerja dan kinerja individual mendorong peneliti untuk mela-kukan pengujian kembali hubungan antara kepuasan kerja dengan kinerja individual dengan menggunakan self esteem dan self efficacy sebagai variabel pemediasi.
Untuk melihat apakah self esteeem dan self efficacy dapat memediasi hu-bungan antara kepuasan kerja dan kinerja individual, dimana self esteem adalah suatu keyakinan nilai diri sendiri berdasarkan evaluasi diri secara keseluruhan. Perasaan-perasaan self esteem, pada kenyataannya terbentuk oleh keadaan kita dan bagaimana orang lain memperlakukan kita. Seseorang dengan self esteem yang tinggi akan melihat dirinya berharga, mampu dan dapat diterima. Orang dengan self esteem rendah tidak merasa baik dengan dirinya (Kreitner dan Kinicki 2003), sedangkan Self efficacy ada-lah keyakinan seseorang mengenai peluangnya untuk berhasil mencapai tugas tertentu (Kreitner dan Kinicki 2003). Penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan objek yaitu dosen karena melihat fenomena yang terjadi ada beberapa dosen merasa dirinya tidak berarti di lingkungannya sehingga membuatnya merasa terasing, minder dan jika memiliki keyakinan bahwa dia tidak mampu untuk menjalani tugasnya sebagai seorang dosen yang harus mengajar, melakukan penelitian-penelitian menjadikan profesinya sebagai suatu beban sehingga dapat menurunkan kepuasan dan kinerjanya. Seseorang yang memiliki self esteem yang tinggi akan merasa dirinya begitu berharga, berarti dan jika dia memilki self efficacy yang tinggi akan merasa yakin dengan kemampuannya untuk berhasil. Hal ini sangat mendukung karier maupun kinerjanya sebagai seorang dosen.


RUMUSAN MASALAH
perumusan masalah penelitiannya adalah apakah terdapat pengaruh positif antara kepuasan kerja terhadap self esteem, kepuasan kerja terhadap self efficacy, kepuasan kerja terhadap kinerja individual, self esteem terhadap self efficacy, self esteem terhadap kinerja individual dan self efficacy terhadap kinerja individual.


TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan bukti empiris tentang keberadaan

a) efek positif kepuasan kerja terhadap harga diri,

b) efek positif kepuasan kerja terhadap efikasi diri,

c) efek positif dari kinerja kepuasan kerja,

d) efek positif harga diri padaself efficacy,

e) efek positif dari harga diri pada prestasi kerja,

f) efek positif dari self efficacy pada kinerja pekerjaan.


KAJIAN PUSTAKA
Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja dapat dipahami melalui tiga aspek. Pertama, kepuasan kerja merupakan bentuk respon pekerja terhadap kondisi lingkungan pekerjaan. Kedua, kepu-asan kerja sering ditentukan oleh hasil pekerjaan atau kinerja. Ketiga, kepuasan kerja terkait dengan sikap lainnya dan dimiliki oleh setiap pekerja (Luthans 1995).


Self Esteem
Self esteem adalah suatu keyakinan nilai diri sendiri berdasarkan evaluasi diri secara keseluruhan. Perasaan-perasaan self esteem, pada kenyataannya terbentuk oleh keadaan kita dan bagaimana orang lain memperlakukan kita


Self Efficacy
Self efficacy adalah keyakinan seseorang mengenai peluangnya untuk ber-hasil mencapai tugas tertentu (Kreitner dan Kinicki 2003). Menurut Philip dan Gully (1997), self efficacy dapat dikatakan sebagai faktor personal yang membedakan setiap individu dan perubahan self efficacy dapat menyebabkan terjadinya perubahan perilaku terutama dalam penyelesaian tugas dan tujuan
Kinerja Individual
Kinerja individual mengacu pada prestasi kerja individu yang diatur berdasar-kan standar atau kriteria yang telah ditetapkan oleh suatu organisasi. Kinerja individual yang tinggi dapat meningkatkan kinerja organisasi secara keseluruhan. Penelitian Goodhue dan Thompson (1995) menyatakan bahwa pencapaian kinerja individual berkaitan dengan pencapaian serangkaian tugas-tugas individu.


HPOTESIS
H1: Kepuasan kerja memiliki pengaruh positif terhadap self esteem
H2: Kepuasan kerja memiliki pengaruh positif terhadap self efficacy
H3: Kepuasan kerja memiliki pengaruh positif terhadap kinerja individual
H4: Self esteem memiliki pengaruh positif terhadap self efficacy
H5: Self esteem memiliki pengaruh positif terhadap kinerja individual
H6: Self efficacy memiliki pengaruh positif terhadap kinerja individual

METODE PENELITIAN
Pemilihan Sampel dan Pengumpulan Data
Data penelitian dikumpulkan dengan kuisioner yang disebarkan kepada sampel mahasiswa Magister Sains Universitas Gadjah Mada yang berprofesi sebagai dosen. Pengumpulan data dilakukan selama 3 minggu, kuisioner disebarkan secara langsung oleh peneliti maupun oleh rekan peneliti. Dari 45 kuisioner yang kembali telah diperiksa secara teliti oleh penulis dan ada 2 kuisioner yang tidak lengkap dan tidak dapat digunakan, sehingga yang dapat dianalisa lebih lanjut adalah 43 kuisioner sebagai sampel dalam penelitian ini.


Pengukuran Variabel
Variabel kepuasan kerja diukur dengan menggunakan instrumen yang dikem-bangkan oleh Weiss et al. (1967) dengan minnesota satisfaction questionare (MSQ) dan instrumen ini juga digunakan pada disertasi doktoral Indriantoro (1997).
Variabel kinerja individual diukur dengan menggunakan instrumen yang di-kembangkan oleh Flippo (1984) dengan 10 pertanyaan yang memiliki tingkat validitas dan reliabilitas yang telah teruji. Variabel self esteem diukur dengan menggunakan instrumen yang dikembangkan oleh Rosenberg (1965) yang telah diterjemahkan dan digunakan oleh Azwar (2003) dengan 10 pertanyaan yang memiliki tingkat validitas dan reliabilitas yang telah teruji.
Variabel self efficacy diukur dengan menggunakan instrumen yang dikem-bangkan oleh Bandura (1977) dan digunakan oleh Jones (1986). Instrumen yang ber-kaitan dengan self efficacy terdiri dari 8 item pertanyaan.


KESIMPULAN
Penelitian ini menguji enam hipotesis untuk melihat bagaimana pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja individual dengan self esteem dan self efficacy sebagai varaibel pemediasi. Dari hasil pengujian 6 hipotesis, ada 2 hipotesis yang tidak terdu-kung yaitu hipotesis 1 yang mengukur hubungan antara kepuasan kerja dan self esteem. Hasil ini tidak mendukung penelitian yang dilakukan oleh Judge dan Bono (2001). Hipotesis yang tidak terdukung juga pada hipotesis 5 yang mengukur hubungan antara self esteem dan kinerja individual. Hasilnya menunjukkan bahwa self esteem memiliki hubungan negatif dengan kinerja individual. Sedangkan hipotesis 2, hipotesis 3, hipo-tesis 4, hipotesis 6 terdukung. Penelitian ini juga berhasil menguji atau menemukan bahwa variabel self esteem dan self efficacy dapat memediasi hubungan antara kepuasan kerja dan kinerja individual.


PENDAPAT KELOMPOK
Menurut kelompok kami penelitian sudah sangat bagus karena menggunakan instrument yang lengkap, teruji validitas dan  reliabelnya. Dapa penelitian ini juga disajikan hasil dari penelitian sehingga menbuat pembaca lebih mengerti, namun menurut kelompok kami perlu di perbaiki keterbatasan penelitian yang disampaikan pada jurnal bahwa kurang representatif dengan sampel yang diambil hanya mahasiswa S2 UGM jurusan ilmu-ilmu sosial yang berprofesi sebagai dosen. Semoga penelitian selanjutnya dapat menutupi keterbatasan pada penelitian ini.